TIDAK banyak yang tahu kalau kolonialisasi Belanda ternyata juga membawa keuntungan bagi introduksi musik Indonesia ke dunia musik klasik, khususnya opera. Bahkan menjadi opera brilian yang penuh dengan akulturasi antara budaya timur dan barat. Itulah opera ATTIMA, een Javaanse Liefdestragedie ( Sebuah tragedi cinta Jawa) yang musik dan libretto/syairnya dibuat oleh Constant van der Wall, seorang komposer Belanda yang musiknya banyak terinspirasi oleh bunyi gamelan dan harmonisasi pentatonis khas Indonesia.
Opera yang dinyanyikan dalam bahasa Belanda ini berkisar tentang Attima, seorang penari Jawa yang jatuh cinta dengan Armand, seorang pemuda Belanda yang juga tergila-gila dengan gadis Jawa tersebut. Sedangkan Kartono, salah satu penari dalam Grup “Gamelan” yang sama dengan Attima, sangat menaruh hati pada gadis itu
. Dia dengan segala cara berusaha mengambil hati Attima. Tapi si penari cantik itu terlanjur jatuh cinta pada Meneer Londo Armand dan memutuskan untuk meninggalkan grup tarinya itu demi sang pujaan hati. Lalu hati hancur Kartono pun berubah menjadi dendam kesumat. Dengan bujukan dari Aissa, salah satu penari yang menaruh hati pada Kartono, ia akhirnya berhasil membunuh Armand dengan keris pemberian Aissa. Tak disangka-sangka, Attima yang putus asa tiba-tiba menghunjamkan keris yang sedang digenggam Kartono ke dadanya. Opera ini pun berakhir dengan kematian dua kekasih yang tragis.
Constant van der Wall (1871-1945), menghabiskan masa mudanya di Surabaya dan Semarang, tetapi kemudian menjadi worldcitizen, dimana ia bersama istrinya, Maria van Noppen yang juga adalah seorang penyanyi, berkelana dari Asia sampai Eropa, seperti Surabaya, Den Haag, Monte Carlo, Batavia, dan Nice. Pria Belanda ini mengenyam studi musiknya di Den Haag, yang kemudian dilanjutkan di Konservatorium Musik, Berlin. Pada tahun 1906, dia disebut-sebut sebagai salah satu komposer Belanda yang paling menjanjikan pada masa itu.
Salah satu surat kabar juga menghujani pujian dengan menyebutkan bahwa musiknya sangatlah orisinil, penuh dengan kekuatan universal, dan juga sisi estetika yang berhasil dicerminkan dalam karya-karya briliannya. Van der Wall banyak menulis karya-karya berbau Indonesia dan Melayu (atau yang disebut Indië pada saat itu) seperti Herinneringen uit Java, Javaanse Rhapsodie, Een Wajang-Legende (Ardjoena Huweelijkfeest), Tropennacht, Mohammedaans Gebed, dan juga sebuah opera dengan setting kultur Jawa, ATTIMA. Ia juga mendedikasikan salah satu karya Melayunya, Maleische Liederen untuk salah satu penyanyi klasik legendaris Belanda, Tilly Koenen. Karena kecintaannya pada budaya timur, maka Constant van de Wall dijuluki sebagai “Componist tussen oost en west”, Komponis antara timur dan barat.
Melihat dari sejarah hidupnya, dia punya hubungan yang sangat erat dengan budaya Indonesia. Kontak dengan dunia timur ini membuat dia terinspirasi untuk membuat opera berlatar belakang budaya Jawa. ATTIMA (kependekan dari “hati” dan “emas”), dipentaskan pertama kali pada tanggal 8 Januari 1917 di Koninklijke Schouwburg van Den Haag. Opera ini juga pernah dipentaskan di Theatre de l’Opera Royal Francais de La Haye, Perancis beberapa tahun setelahnya. Karya besar yang syairnya dibuat dalam bahasa perancis dan belanda ini ternyata juga pernah dipentaskan di Batavia pada tahun 1922. Di gedung apa, tak pernah disebutkan. Tahun ini, Attima kembali dipentaskan di Koninklijk Schouwburg van Den Haag tanggal 23,24,25,27,28 Mei yang lalu, dalam rangka perayaan festival tahunan di Den Haag, Pasar Malam Besar yang ke 50. Pasar Malam Besar Den Haag diadakan sejak tahun 1958 dimana orang-orang di Belanda dapat menikmati beraneka macam atraksi budaya Indonesia seperti tarian tradisional dan pertunjukan gamelan, serta makanan khas Indonesia.
***
PEMENTASAN ATTIMA bulan Mei lalu itu terbilang cukup sukses mengangkat kembali opera yang “terlupakan” tersebut. Opera bernafaskan Indonesiani ini didukung oleh para solois profesional yang bisa dibilang sangat berkualitas, baik dalam teknik bernyanyi maupun akting. Karakter utama dalam opera ini, Attima, diperankan oleh Annemarie Kremer yang berhasil membawakan karakter Attima dengan sangat baik, subtil dan terlihat sangat kejawen. Ia juga dapat melaraskan line coloratura pentatonis dengan cukup sempurna dan fasih, walaupun terkadang suara soprano liriknya terdengar terlalu direct dan kurang manis di telinga.
Kartono diperankan oleh Quirijn De Lang yang mempunyai darah Indonesia. Dengan suara baritonnya, ia dapat menciptakan atmosfir yang misterius dan miris. Yang lebih mengejutkan lagi, mereka harus menarikan tari Jawa tradisional dalam banyak adegan di dalam opera, sebab disitu diceritakan bahwa mereka tergabung dalam grup tari “Gamelan” yang sering mengamen di tengah kota dan menarik perhatian para turis yang lewat.
Sang komposer dengan bijaknya menyisipkan siklus tari Jawa tradisional, seperti cuplikan tarian Dewi Sri yang dengan apiknya dipadankan dengan musik barat yang mengangkat tema melodi tradisional Jawa yang berhasil diwujudkan oleh sang koreografer, Arnaud Kokosky Deforchaux dengan sangat baik. Van de Wall mempersingkat tarian yang cukup panjang itu dengan menggambarkan badai yang tiba-tiba datang di sela-sela pementasan, yang mau tak mau harus dipersingkat oleh para penari tersebut. Ia juga memasukkan metafora yang cukup tajam.
Seperti opera Pagliacci, dimana ada cerita di dalam cerita opera itu sendiri, begitu juga dengan Attima. Di dalam runtutan tarian Jawa tersebut, Ia memasukkan tarian yang kurang lebih sama dengan cerita opera Attima itu sendiri, yaitu berceritakan tentang seorang putri yang diganggu oleh setan jahat, yang kemudian ditolong oleh seorang pangeran bersama teman akrabnya. Tetapi kemudian sang putri memilih pangeran Arab itu menjadi pendampingnya, yang lalu ditelantarkan dan pindah ke hati seorang tentara Belanda. Sayangnya tarian itu harus bubar karena datangnya badai yang menghancurkan adegan pernikahan sang putri dengan si tentara Belanda.
Musiknya sendiri pun sedikit mengarah ke gaya Puccini, yaitu Late Romantic Opera yang kental dengan melodi romantik yang sangat liris. Opera Attima ini terkadang mengingatkan kita pada opera Madama Butterfly yang selesai ditulis oleh Puccini pada tahun 1904 dengan nada-nada pentatoniknya dan atmosfir timur asia yang menghiasi karya tersebut.
***
SECARAkeseluruhan, semua penyanyi dan penari pada malam itu tampil sangat prima, tetapi sangat disayangkan orkestra yang main pada malam itu tak bisa melembutkan suara instrumen mereka pada saat para solois melantunkan aria-aria indah dari Constant van de Wall itu, sehingga banyak line yang tak begitu terdengar oleh penonton. Mungkin juga ini disebabkan oleh akustik Koninklijk Schouwburg yang sangat kering, sebab gedung tua ini sebenarnya untuk pementasan teater. Tetapi tanpa alasan ini pun harusnya orkestra mampu menyesuaikan volume suara instrumennya dengan para penyanyi. Begitu juga dengan koor semi amatir yang tak begitu bisa menyampaikan musik yang ditulis secara sophisticated oleh van de Wall tersebut. Walaupun begitu, akting mereka terbilang cukup bagus dan menarik, sehingga bisa menutup kekurangan musikal yang ada.
David Prins, sutradara opera Jawa ini patut diacungi jempol karena ide-ide kreatifnya dalam mengemas opera ini dengan sedemikian rupa, sehingga tetap terlihat sangat orisinil dengan gaya Jawanya. Dalam beberapa adegan kelahi, ia tetap memasukkan tarian Jawa wayang orang di dalamnya, sehingga tampak sangat indah dan asli. Didukung dengan dekor yang sangat pas, opera ini tampak lebih manis. Ditangan ahli dekor dan cahaya, Reier Pos, opera ini menjadi sangat berwarna juga sekaligus misterius. Di babak pertama, Prins mengetengahkan tema pasar tradisional Jawa, dengan tempelan spanduk-spanduk iklan berbahasa Indonesia yang masih ditulis dengan ejaan lama, seperti “Cap Tjaplang” dan “Jamoe Nyonya Meneer”. Sedangkan pada babak kedua, Pos hanya menggantung kain-kain hitam di panggung, dengan cahaya redup yang membuatnya tampak misterius dan menyeramkan.
Kostuumontwerpster opera ATTIMA, Joke Zweedijk sepertinya sangat memahami tekstur-tekstur Jawani yang berhasil ia refleksikan dalam kostum-kostum apik yang dibuatnya. Untuk pemeran-pemeran utama, ia banyak memadukan baju tradisional jawa model “dodot” atau kemben dengan sedikit gaya Bali yang ditampilkan lewat hiasan kepala, namun dengan motif yang tak biasa digunakan dalam budaya tekstil tradisional Indonesia. Warna-warna yang digunakan juga cukup mencolok, seperti merah jingga dan kuning keemasan. Sementara itu untuk kostum choir, ia lebih memilih warna-warna kalem seperti warna khaki dengan motif lurik dan warna-warna pastel. Untuk peran Meneer Belanda, Zweedijk mengetengahkan tema army dengan seragam tugas officer jaman dulu yang didominasi dengan warna putih.
Agaknya opera ini tak akan menjadi kenyataan tanpa bantuan Henk Mak van Dijk, antropolog sekaligus pianis yang menjadi dramaturgi dalam opera ini. Dialah yang mencetuskan ide pementasan opera ini, serta mengangkat kembali karya-karya Indische Componisten, seperti Constant van der Wall, Paul Seelig, Linda Bandara, dan Bernard van den Sigtenhorst Meyer dalam bukunya yang baru saja diterbitkan beberapa waktu lalu, “De Oostenwind waait naar het Westen: Indische componisten, Indische composities 1898-1945” ( Angin timur bertiup ke Barat: Komponis Indische, Komposisi Indische 1898-1945). Dia menulis sejarah para komponis Belanda yang terinspirasi oleh kultur Indonesia yang kemudian berpengaruh besar pada karya-karya musik mereka.
Opera Attima bukanlah opera biasa. Dengan kombinasi antara unsur-unsur timur dan barat yang unik, opera ini berhasil mendapat sebutan, “Satu-satunya opera Indische yang ditulis sebelum tahun 1945”. Dengan banyaknya direktur perusahaan opera yang hadir pada malam itu, saya hanya dapat berharap agar ATTIMA bisa mendapat kesempatan untuk dipentaskan kembali di panggung pertunjukan yang lebih besar, sehingga popularitasnya bisa disejajarkan dengan opera romantik Verdi atau Puccini suatu saat nanti. Sungguh suatu kebanggaan apabila bisa melihat budaya kita dipentaskan di depan khalayak internasional. Tetapi tentunya, kita tidak bisa hanya menggantungkan nasib promosi budaya Indonesia pada tangan orang lain. Kita sebagai anak bangsa juga harus berusaha untuk menggunakan talenta kita untuk berkarya bagi bangsa sendiri dan membawa nama Indonesia ke dunia internasional.***
(Bernadeta Astari, mahasiswi musik di Konservatorium Utrecht)