05
Dec
09

Physically or Emotionally in Love?

Cinta menurut definisi Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah sebuah perasaan yang ingin membagi kebersamaan atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Dalam Bahasa Yunani Kuno, dijelaskan tentang 3 jenis cinta: eros, philia, dan agape. Eros adalah cinta yang berdasarkan semata2 karena hawa nafsu. Philia adalah level cinta dimana ada keinginan untuk berbagi dengan sesama. Dan agape adalah cinta kepada Tuhan atau sesuatu yang lebih tinggi daripada manusia.

Pernahkah terpikir dalam benak kalian tentang apa itu sebenarnya cinta kepada pacar kalian masing2? Apa itu hanya sebatas passion ataukah urge yang benar2 datang dari lubuk hati (emotion). Ada beberapa prinsip pacaran yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari2, according to some of my friends in Indonesia.

1. Pacaran “sehat” dan “bersih”: Bisa dibilang, gaya pacaran yang sangat mengacu pada agama dan unwritten rules di sekitar kita yang menekankan bahwa perempuan dan laki-laki tidak sepatutnya melakukan sesuatu yang mengarah ke perbuatan yang dianggap tak pantas oleh masyarakat sekitar or custom dimana kamu tinggal dan dibesarkan, seperti halnya kissing, make out, dsb di mata orang-orang Indonesia. Mereka murni berpacaran karena alasan “cinta yang tulus”. Bukan karena hawa nafsu.

2. Pacaran “mediocre” or “emosional”: Gaya pacaran yang ini pada dasarnya mengutamakan keintiman emosional yang erat di antara 2 pihak. Saling berbagi emosi dan perasaan, yang kadang tak pelak jika hubungan fisik  tak bisa dihindarkan, karena terlampau dalamnya kontak emosi antara mereka berdua.

Dan sebenarnya saya tadinya ingin menulis yang ke-3. Tapi sepertinya teman2 sudah bisa menduga apa gaya pacaran yang terakhir bukan?!..;-)

Bagi sebagian orang, gaya pacaran yang pertama terdengar sangat naif dan inoscence. But It does exist! Mereka yang menerapkan gaya pacaran tersebut biasanya dari awal sudah berpikir untuk langsung serius dalam menjalin hubungan mereka, dengan maksud untuk dibawa ke arah perkawinan nantinya, dengan selalu berpedoman kuat pada peraturan agama dan sosial (I think most of them must be very religious). Ciuman, make out, dll dianggap tabu dan tak sepantasnya dilakukan selagi pacaran. But there’s a big question mark inside of my head. How can they ignore their impulse to express their love to each other? I mean, is that enough just walk hand in hand without any close interaction with each other? Atau mungkin mereka punya cara lain untuk itu. Di sisi lain, pacaran gaya ini bisa menjadi sangat indah, karena tidak ada sama sekali sexual intention atau pikiran2 yang mengarah ke hal2 tsb yang terkadang bisa merusak kemurnian hubungan keduanya.

Lain halnya dengan yang ke-2, yang saya rasa paling masuk akal. As a human, we need some close interaction to express our deep feeling to each other. Tak bisa dipungkiri, kita sebagai manusia pasti memiliki passion utk hal2 duniawi. But as long as it comes from your heart, that won’t be consider as purely sexual necessity anymore. Kadang2 kita bisa get away dengan memakai alasan itu, (yang kadang terdengar gombal abis..:-)) Tapi kalo dua2nya mempunya rasa dan ikatan emosi yang kuat, I think it will resolves to something which is more beautiful than the 1st one. IMPULS! Itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan relasi seperti ini.  I think I will go for this one!hahaha..;-) Like what Nat King Cole says in his song:

I love you for sentimental reasons
I hope you do believe me
I’ll give you my heart

I love you and you alone were meant for me
Please give your loving heart to me
And say we’ll never part

I think of you every morning
Dream of you every night
Darling, I’m never lonely
Whenever you are in sight

I love you for sentimental reasons
I hope you do believe me
I’ve given you my heart



Isn’t that beautiful? So, which one are you, physically or emotionally in love?!:)

Both of them must be perfect then! :)

30
Mar
09

Titik Equilibrium Dalam Bermusik

259788flnkw-main_full2Suara merdu soprano cilik itu terngiang-ngiang di telinga saya. Bak malaikat kecil, ia menyanyikan lagu “Pie Jesu” yang digubah oleh Andrew Lloyd Weber dengan sangat indahnya. Dia adalah Charlotte Church yang pada usia ke-12nya meluncurkan album lagu-lagu klasik pertamanya. Dialah yang pertama kali menginspirasi saya dalam hal memilih profesi saya kelak, yaitu menjadi penyanyi klasik/seriosa. Saat itu saya masih berumur 11 tahun, namun tekad hati untuk mewujudkan cita-cita saya sudah bulat. “Suatu hari, saya harus bisa seperti dia!”, tutur saya dalam hati. Semenjak itulah saya memutuskan untuk menekuni bidang tarik suara dengan lebih serius dan mantap. Dan….Voilà! Inilah saya sekarang, mahasiswi musik tahun ke-3 di Conservatorium van Utrecht!

Tak disangka-sangka, tekad bulat sedari kecil membawa saya sampai ke kota Utrecht, kota terbesar keempat di Belanda. Utrecht juga terkenal sebagai salah satu kota tertua di Belanda. Tak heran jika disini masih bisa ditemukan banyak peninggalan-peninggalan dari zaman Barok yang secara otomatis menjadikan Utrecht sebagai kota kebudayaan dan kesenian. Banyak sekali festival-festival musik, teater, dan tari yang berlangsung disini. Inilah salah satu alasan kenapa saya memilih untuk belajar di Utrecht. Kita bisa dengan mudah menemukan pertunjukan musik dimana-mana, seperti kentang goreng yang bisa ditemukan dimana saja di Belanda. Terlebih lagi juga karena lingkungan belajarnya yang cukup internasional dan mendukung perkembangan jaringan antar musisi.

Ternyata untuk menjadi musisi profesional, tak hanya dibutuhkan talenta dan musikalitas semata, tetapi teknik juga merupakan elemen yang sangat penting dalam kehidupan permusisian kita. Mengasah teknik merupakan bagian yang paling esensial di Konservatorium musik. “Teknik, teknik, teknik!”, itulah semboyan dari Cecillia Bartolli, salah satu mezzo soprano terkenal dunia dari Italia. Dan saya baru mengerti arti sebenarnya setelah benar-benar berkecimpung di dunia permusikan ini. Sebagai musisi profesional, kita dituntut untuk selalu melatih teknik secara rutin supaya otot-otot kita terbiasa dengan posisi-posisi tertentu, yang nantinya dapat memudahkan kita dalam mengungkapkan dan menyampaikan ide musikalitas kita kepada orang lain. Tak heran jika anak-anak konservatorium sehari-harinya selalu menghabiskan waktu untuk latihan dari pagi sampai malam hari. Jangka waktu latihannya bervariasi, tergantung instrumen apa yang menjadi spesialisasinya. Bagi para pianis, mereka disarankan untuk latihan paling tidak 5 sampai 6 jam sehari. Lain halnya dengan vokalis, kami tidak bisa latihan terlalu lama dikarenakan oleh kondisi pita suara kami yang sangat “fragile”. Tapi yang paling penting, harus selalu rutin latihan!

Disisi lain, musik tidak sebegitu rumitnya juga untuk diwujudkan. Musik merupakan bahasa yang paling universal kata banyak orang. Saya mengalami sendiri bagaimana musik bekerja dengan hebatnya untuk setiap orang. Tak perlu satu bahasa, satu kewarganegaraan, kita semua bisa membuat musik bersama. Saya disini mendapat pelajaran “Community Music”, yaitu bagaimana kita bisa membuat dan bermain musik bersama dengan orang lain yang levelnya belum tentu sama dengan kita. Contohnya anak-anak kecil.

Dengan beberapa teman internasional, saya pergi ke suatu sekolah dasar untuk mengajar musik disana sebagai tugas akhir tahun. Betapa kagetnya saya melihat keantusiasan anak-anak tersebut. Definisi belajar musik tidak hanya semata-mata belajar membaca not balok, kord, tangga nada, dll. Belajar musik bisa juga dengan sesuatu yang simpel, seperti clapping game dengan beat/tempo tertentu atau meminta mereka untuk memimpin orkestra perkusi yang memungkinkan mereka untuk membuat berbagai macam dinamik tampa harus pusing dengan untaian nada dan not. Tidak hanya soal bagaimana mengeluarkan suara yang merdu atau permainan melodi yang sempurna, tapi juga kesempatan dan kebebasan mereka untuk “making music”. Hanya dengan Bahasa Belanda yang tidak seberapa fasih, mereka ternyata bisa mengerti semua instruksi kami. Hanya dengan musik, semuanya mungkin!

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pegangan saya untuk selalu berada di jalur yang seimbang. Talenta dan musikalitas jelas diperlukan dalam hal ini, namun harus didukung juga dengan teknik bermain musik atau bernyanyi yang benar sebagai bekal ilmu menuju dunia musik profesional nantinya.

(Bernadeta Astari, Mahasiswi musik di Konservatorium Utrecht, Belanda)

21
Jan
09

Menjadi 21, menjadi manusia yang berkualitas!

Banyak orang mengatakan bahwa jika kita sudah mencapai usia 21 tahun, itu berarti kita sudah menjadi “the real woman” atau “wanita sejati”.  Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan menjadi wanita sejati itu?!.. Menjadi dewasa dalam segala hal katanya. Termasuk dalam cara memulas dan mempercantik diri. Apakah harus diperlihatkan dengan perubahan cara berdandan dari “Kipling style” menjadi “Prada style” ?

Segala pertanyaan tentang perubahan diri itu terus mengusik hari-hari saya semenjak berganti usia menjadi 21, hampir seminggu yang lalu. Sampai-sampai bingung harus pake apa ke kampus..(shame on me..haha). “Gitu aja kok repot!!!’, sahut salah satu teman. Perubahan itu perlu, namun apakah harus dimulai dari kulit luar terlebih dahulu?..Saya rasa, banyak yang lebih esensial daripada penampilan, meskipun perlu kita catat bahwa cara berpakaian terkadang penting untuk menentukan tingkat keeksisan kita di dunia pergaulan ini. Nggak perlu yang extraordinary, but at least sedap dipandang dan sesuai dengan “occasion”.

Sibuk dengan segala pemikiran ttg penampilan luar,  sontak saja saya sampai kepada sebuah perenungan tentang seberapa penting sebenarnya kualitas diri dan hidup kita selama ini. “Di usia awal2 kepala dua ini, apakah gill-zela-conscience2uwe udah bisa ngeraih target2 yang selama ini ingin dicapai?..Apa guwe sudah banyak melakukan hal2 berguna selama 21 tahun hidup di alam semesta ini?..Apakah guwe sadar akan kelebihan dan kelemahan diri guwe sendiri?..”, ujar saya dalam hati. Spontan saja saya merasa seperti menganalisa diri sendiri.  Menelaah sifat baik dan sifat yang masih harus dibenahi.

Terkadang manusia takut untuk menilik kedalam dirinya sendiri dan mengakui sikap2 yang selama ini terkungkung dalam gua penyangkalan. Tidak berani mengail sampah2 yang sudah menggunung, dan hanya berusaha menimbunnya terus menerus. Kalau begini caranya, bagaimana kita akan menjadi manusia yang berkualitas?.. Dari tahun ke tahun tetap sama, tanpa ada perubahan ke arah yang yang lebih baik.

Di akhir tahun 2008 lalu, diri saya sempat bergejolak, memohon pertolongan dari segala kerongsokan diri yang semakin lama semakin membuat saya muak. Rasanya seperti tenggelam di pasir hisap, yang membiarkan kita megap-megap kehabisan tenaga dan udara.  Tapi rupanya ada tongkat kayu panjang yang berhasil menyelamatkan saya dari pasir jahanam itu. Saya seperti tersentil dengan kualitas hidupku sekarang ini. Lelah dengan semua penyangkalan terhadap diri sendiri. Memang terkadang manusia tidak sadar dengan apa yang salah dengannya, sampai-sampai harus orang lain yang mengingatkan atau menasehati. Namun dari pengalaman saya, banyak juga sifat yang sebenarnya  sudah sangat kita kenal dan bahkan sudah “khatam’, tapi malas melakukan revisi dan revolusi terhadapnya.

Analisa diri saya rasa perlu, sekali-sekali menganalisa lebih baik daripada tidak pernah sama sekali dan tetap menjadi manusia yang sama setiap hari/tahunnya. Kita harus bisa memaknai hidup kita dengan suatu “reward” atas apa yang sudah bisa kita capai. “Reward” ini bisa didapat dengan pastinya kejujuran diri, membuka diri, kontrol diri, introspeksi diri, dan yang terakhir, merubah diri. Sedikit perubahan sudah berarti banyak untuk diri kita, dan kita juga harus menghargai usaha yang telah dilakukan dari dan untuk diri sendiri. Daripada sibuk2 bergaya yang hanya bisa dilihat orang lain,, mending mikirin sesuatu yang tidak kasat mata, tapi semua orang bisa merasakan manfaatnya. I love myself, that’s why I’d change myself  into a better one!  Soal apa yang harus dibenahi, kitalah yang paling tahu. Be 21, be qualified in attitude! ;D

28
Sep
08

Anti sosial

Pernah nggak ngerasa malessss ketemu dan pergi bareng teman2 kalian? Pernahkah nggak mikir: “ah, gw mendingan di rumah, ngerjain kerjaan gw sendiri!”

Apa ini ya yang namanya gejala2 anti sosial?..Saya sepertinya sedang mengalami gejala-gejala akut ini ni..Saya sadar, ini sudah terjadi kesekian kalinya dalam beberapa tahun terakhir ini. Saya memang sejak dulu nggak terlalu suka keluar rumah dan keluyuran sampai larut malam. Paling sekali-sekali saja.

Well, mungkin term anti sosial terlalu berlebihan buat saya. Mungkin saya adalah tipe orang yang mencoba menyeimbangkan semuanya, nggak terlalu banyak, dan nggak terlaly sedikit, nggak terlalu ke kanan, nggak terlalu ke kiri.

Beberapa hari lalu, saya sempat membuat daftar tentang kelemahan-kelemahan dalam diri saya, dan mencoba menganalisanya.

Soal teman baik: Saya bukan tipe orang yang bisa menjalin hub. pertemanan yang baik dengan banyak orang. Selalu ada perasaan enggan jika harus menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi didalam suatu kelompok. Orang selalu bilang, saya adalah orang yang benar-benar supel, kenal sana sini, bahkan sampai mendapat julukan “menteri perhubungan”..;D Mungkin memang benar yang orang bilang tentang diri saya yang sangat senang bertemu dengan orang baru. Tapi masalah berkenalan lebih jauh dan dalam, eitss..tunggu dulu.. Saya bukan orang yang segampang itu mengajak atau diajak berdiskusi soal prive, kecuali benar-benar merasa klop dengan lawan bicara tersebut. Apakah saya juga “picky” dalam soal pertemanan?(Karena saya sangat “picky” dalam soal pacaran..hehe) Saya selalu mempunyai teori bahwa mencari teman sama saja dengan mencari pacar. harus ketemu yang benar2 pas, nggak bisa asal saja. Dan sejauh ini terbukti…Hanya beberapa orang saja yang benar-benar merupakan teman sejati saya, meskipun mereka tinggal nun jauh di negeri seberang dunia.

Keep contact: Satu kelemahan saya, menjaga kontak dengan oranglain. Saya hampir selalu kehilangan kontak dengan teman-teman saya yang sudah lama tak bertemu, terutama non indo, don’t know why. Entah lupa membalas suratlah, tidak kirim kabarlah, dll. Padahal, menjaga hub. pertemanan dengan orang non-indo sangatlah penting. Kita bisa bertukar pikiran, menambah network, memperlancar bahasa asing kita, dan juga tinggal gratis kalau sewaktu-waktu pergi ke negaranya…hehehe..wah..mesti introspeksi nih..hehehe;D

Minder: Yang satu ini adalah penyakit yang baru muncul akhir-akhir ini. Saya merasa bahasa inggris saya menurun drastis! Grammar kacau, perbendaharaan kata terbatas, pengucapan salah, dll.  Tak tau kenapa saya selalu merasa nervous jika berbicara bahasa inggris dengan orang yang mother languagenya inggris..ya iyalahh yaaa.. Namun saya merasa bodoh seketika..haha.. Saya sepertinya harus belajar cuek ni seperti tahun pertama saya di belanda..dengan inggris pas-pasan, bisa tenang saja menghadapi culture shock pertama disini..hihi

Language Disorder: Belakangan ini, saya merasa skill bahasa Indonesia dan bahasa Inggris saya menurun. Kadang menajadi gagap aneh bin kacau jika sedang berbicara Bahasa ibu saya sendiri. Apakah ini terjadi karena saya hidup di Belanda, dimana harus mau tak mau menyerap dan memakai 3 bahasa, Inggris, Belanda, dan Indonesia??!!.. Moga-moga nggak makin buruk deh keadaannya..kalau nggak bisa kacau..

Inilah sedikit renungan dikala menghabiskan waktu anti-sosial saya hari ini. Semoga ada komen-komen yang bisa membantu saya memeperbaikinya…hehe..or..I’ll try to figure it out by myself..hope so..

30
Aug
08

Eurotrip: “Antara perjalanan wisata dengan perjalanan spiritual” part 2

TUT..TUT..TUT.. bunyi alarm handphone Manda yang tak tau kenapa dicap mengganggu oleh kami bertiga, sehingga akhirnya di-snoooze tanpa berhasil membangunkan salah satu dari kami. Bunyi alarm kedua yang lebih nyaring dari handphone Dedepun tak sanggup menggerakkan kelopak mata kami yang rasanya berat setengah mati.  Dan akhirnya giliran terakhir alarm handphone saya yang berbunyi. Saya yang sangat percaya pada hp kesayangan saya, nokia 6600pun berhasil bangun dan menganggap kami masih punya waktu kira-kira 1,5 jam untuk bersiap-siap,sebab kereta kami berangkat pukul 9.42, dan saya menyetel alarm pukul 7 pagi.

Namun alangkah kagetnya saya begitu melihat jam di hp saya setelah dinyalakan..PUKUL 7.40!!!!! “Kok bisaaaa?!!!”, saya serta merta berteriak, sekaligus membangunkan mereka berdua. Sepertinya ada yang salah dengan hp saya, atau ini hanya keteledoran saya waktu mengesetnya..(I’m still wondering what happened on that day…hmm…strange..). Kami sempat ragu apakah keretanya bakal terkejar apa tidak.. sempat ada yang putus asa..”udahlah..nggak bakal kekejar..” Tapi mengapa tak dicoba dulu????!!!!… Kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak mencobanya terlebih dahulu..tidak hanya dalam kasus ini, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku yang disusun oleh Rhonda Byrne,The Secret, di salah satu chapter dikatakan bahwa “Harapan adalah daya tarik yang kuat. Harapkan hal-hal yang anda inginkan, dan jangan mengharapkan hal-hal yang tidak anda inginkan”. So, yang penting usaha duluuuu!!!!!

Tersadar dari perasaan menyerah pasrah, kami segera membereskan barang-barang dan secepatnya check out dari Etap hotel Les Moulineux, di selatan paris. Sambil memikul carrier yang beratnya sudah bertambah (karena baju-baju vintage dan souvenir cantik yang baru kami beli..hehe), kami pun berlari secepat kilat mengejar Tram, RER, dan metro ke Gare du Lyon. Kami sebenarnya sampai tepat pada waktunya yaitu pukul 9.42, tapi sayangnya definisi “sampai”-nya kami itu adalah sampai di stasiun kereta, bukan “sampai” di gerbong kereta yang dituju. Lagipula, meski sudah sampai di gerbong kereta, kami juga sudah pasti ketinggalan kereta.

Akhirnya kami segera pergi ke loket dan bermaksud membeli tiket kereta selanjutnya menuju Nice.  Tapi semua keberangkatan sudah fully booked!! Tiba-tiba Dede menyebutkan Kota Lyon, dimana ia dan Manda memiliki teman disana (hasil networking dari konferensi internasional yang baru mereka ikuti beberapa waktu lalu..hehe). Alhasil, kami mengubah haluan tujuan, dari Nice menjadi Lyon. Beruntung Sangeeta (teman India-Singapura mereka berdua yang sedang magang di interpol perancis..wuih..) bisa menjemput dan kemudian menemani kami sebentar waktu makan siang. Bergantung pada katalog Etap hotel, kami pun segera booking hotel untuk malam itu dan meng-cancel hotel kami di nice, yang ternyata tak tanggalnya tak bisa dipindahkan ke hari esoknya, karena semuanya sudah fully booked (high season gitu loooohhh…). Kami langsung terbentur pada masalah baru…”tidur dimana kita besok?”…”tidur di stasiun aman nggak ya?!”.. Dengan nekadnya, kami bersepakat untuk gambling mencari hotel esok harinya di Nice. At least hari itu kami mendapatkan tempat berbaring dan berteduh sementara yang nyaman.

Kami tidak sempat melihat banyak objek wisata di Lyon. Hanya beberapa di Vieux Lyon (Old Lyon), salah satu distrik yang dilindungi oleh UNESCO cultural heritage, sebagai bagian terbesar dari peninggalan zaman renaissance di eropa. Terletak di sisi bukit Fourvière, yang juga memiliki bangunan-bangunan tua bersejarah seperti Saint Jean Cathedral, Patung Louis XIV, Saint Paul medieval church, dan Jembatan Lyon yang sangat elok.

Walaupun belum puas hanya berkunjung ke daerah yang sejak 1964 menjadi France’s first “protected sector”, tapi kami harus pulang ke hotel kesayangan kami untuk menyiapkan mental dan jasmani untuk perjalanan ke Nice keesokan harinya.

******************

PERJALANAN esok harinya ke Nice berjalan dengan lancar, meski kami masih khawatir dengan masalah penginapan. Kami berencana mencari hotel/motel sesampainya disana. Di perjalanan, tiba-tiba saja saya dan Dede teringat oleh teman Spanyol kami yang casciscus berbahasa indonesia, Jonas Bisquert yang katanya mempunyai sepupu di Nice. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengirim sms ke Jonas, bertanya apakah saudara sepupunya itu bisa membantu mencarikan penginapan bagi kami, paling tidak memberi informasi mengenai hotel/motel dengan harga terjangkau, dan juga aman. Tak disangka-disangka, saudara sepupunya malah menawarkan kami untuk bermalam di rumahnya!!!… Ternyata Tuhan benar-benar mendengar doa 3 gadis malang ini!!!..hehehehe….

Sesampainya di kota sebelah selatan perancis itu, kami cepat-cepat menelpon Salmiak,suami Inez, sepupu perempuan Jonas yang kebetulan harus bermain di sebuah konser di San Remo, 1 jam-an dengan mobil dari Nice hari itu. Inez, adalah sepupu perempuan Jonas yang sudah tinggal lama di perancis. Used to live at Strasbourg, di bagian utara timur Perancis. Dia berprofesi sebagai musisi, violinist lebih spesifiknya. Dia tinggal bersama anak laki-laki nya, Mateo dan suaminya yang berkebangsaan Iran.

Setelah diberi patokan dan ancar-ancar yang jelas, kami langsung melangkahkan kaki menuju rumah mereka di sebelah utara centrum Nice. Kami ditugaskan mengambil kunci terlebih dahulu di tetangganya, Joan, ibu muda cantik yang agaknya adalah teman baik dari keluarga mereka. Sialnya, kami sempat tersesat dan menemui masalah dengan kunci yang ternyata tak sesepele yang kami kira hingga harus menunggu kurang lebih 1 jam di pintu luar apartemen. Dengan penuh perjuangan, akhirnya kami berhasil masuk dan membuka pintu apartemen mereka.

Satu yang membuat kami heran..sebegitu percayanya mereka pada kami, orang-orang yang belum pernah mereka temui sebelumnya..hanya menggantungkan kepercayaan pada Jonas, sepupu mereka yang pasti sudah bercerita banyak tentang teman Indonesia kecilnya ini..hihihi.. Bahkan kuncinya boleh kami simpan, sehingga bisa bebas keluar masuk apartemen ini kapan saja, kata Salmiak, suami Inez. Oh Gosshhhhh……malaikat macam apakah yang dikirim untuk kami??…huaaa..alangkah baiknya mereka berdua!!.. Ternyata kebaikan memang tidak pandang bulu..mau orang item kek, putih kek, albino kek, semua perbedaan kulit, ras, dan bangsa tersebut dapat disatukan dengan 1 misi, menyebarkan kebaikan dan kasih sayang!!

Masih terlena dengan kebaikan mereka, kami pun memutuskan pergi berjalan-jalan ke city center. Nice adalah salah satu kota Perancis yang menjadi tujuan utama turis-turis asing, dikarenakan oleh letaknya yang sangat strategis, yaitu di pesisir Mediteranian, diantara Marseille(Perancis) dan Genoa (Italia). Nice mempunyai sebutan Côte d’Azur (French Riviera). Kami sempat berjalan-jalan di Promenade des Anglais, yaitu sidewalk di tepi pantai mediteran yang diselimuti dengan batu koral. Keindahan pemandangan disana, dilengkapi dengan bangunan tua Hotel Negresco yang anggun menjulang di atas bukit. Vielle ville Nice (Old town of Nice) dengan kerlap kerlip lampu dan bangunan-bangunan tuanya membawa atmosfir yang sangat “Hidup” bagi kami. Kami menemukan kemiripan suasana dengan Bali yang sangat “Alive” dan “Cheerful”. Dimana-mana ada cafe, Traiteur, Kios es krim (yang sayangnya mahaaaaal banget…1 scope=2 euro…gilaa..), Club, yaaa persis bali…tapi di tanah eropa.

Kota Nice pada abad pertengahan sempat berpengaruh besar dalam sejarah Italia. Bahkan bahasa Itali sempat dijadikan bahasa nasional disana pada tahun 1561, saat Emanuel Philibert, Duke of Savoy menghapuskan pemakaian bahasa Latin. Banyak pengaruh Italia yang diserap dan kemudian ditunjukkan dalam arsitektur-arsitektur bangunan disana, seperti contohnya Place Garibaldi, yang diambil dari nama Giuseppe Garibaldi, pahlawan Italia yang lahir di Nice.Selain itu, kami juga sempat mengunjungi Place du Palais (Palace of Justice) yang terletak di antara cour Saleya dan place Masséna di tengah kota.

Harga-harga di Nice relatif mahal. Kami hanya gigit jari melihat orang-orang makan restoran-restoran mahal yang menghidangkan makanan-makanan mewah dan menggugah selera. yaa.beginilah nasib backpacker (amatir). Setelah makan kecil di suatu restoran cina (dimana kita juga udah diliatin karena memesan menu 1 orang untuk bertiga…haha) dan mennjelajah sebagian kota pesisir ini, kami pun pulang ke tempat Inez dan langsung disambut oleh Salmiak suami Inez. Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar sambil menunggu Inez dan Mateo pulang. Sungguh, mereka adalah orang-orang baik!!!!

Selama perjalanan, saya menghabiskan waktu di kereta dengan membaca buku karya pengarang favorit saya, Karl May. Ada satu kutipan dari puisi yang ceritanya dibuat oleh Sihdi Charley, yang sebenarnya merupakan tokoh representatif dari si pengarangnya sendiri. Bait-bait itu berbunyi:

Bawalah warta gembira ke seantero dunia

Berikanlah kasih sayang semata-mata

Agar denyutnya mengalir ke semua negara

Langsung muncul dalam benak saya, bait dari sajak tersebut setelah bertemu dengan Inez dan keluarganya. Betapa mulia hati mereka..yang bebas dari kungkungan penjahat nomor satu dunia, yaitu “Prasangka”. Memang sulit untuk diterapkan di realita hidup sehari-hari (apalagi di jakarta…gimana bisa nggak berprasangka yang nggak2 ke orang lain?!!) Namun di lain pihak, mereka dapat hidup lebih bahagia dengan hidup yang bersih dari kecurigaan dan prasangka, dan menggantikannya dengan kepercayaan dan kasih sayang. “Coba gue bisa kayak gitu”, ujarku dalam hati. Yaaaa….we’ll see deh….hehe..;D

23
Aug
08

Eurotrip: “Antara perjalanan wisata dengan perjalanan spiritual”

BEBERAPA waktu yang lalu, saya bersama sepupu dan 1 temannya berkelana keliling Perancis, Italia, dan Jerman. Well, memang kami tidak sempat menjelajah seluruh tempat di negara-negara tersebut, tetapi kami memilih menyebutnya dengan kata “Eurotrip” sebagai penyederhanaan saja..hehe..

Saya berpetualang bertiga, bersama dengan Adeste Adipriyanti, sepupu seperjuangan saya, dan teman baiknya, Amanda Valani. Kebetulan mereka berdua terpilih menjadi representatif indonesia di Konferensi International Youth Leadership di Praha, Juli yang lalu. Dengan memanfaatkan kesempatan yang ada, mereka tak mau melewatkan keindahan eropa yang “Magical” begitu saja. Saya yang baru saja datang kembali dari Indonesiapun langsung harus berkemas-kemas untuk perjalanan ini. Dengan bermodal nekad serta duit pas-pasan, akhirnya kami pun jadi berangkat menjelajah eropa barat dan selatan!!(meskipun cuma sekelumit bagiannya saja..;D)

Deta, Dede, dan Manda (begitulah panggilan kami masing-masing) bak trio Charlie’s angels yang harus menyelesaikan sebuah misi. Jika dalam film tersebut misinya sudah jelas, dalam kasus kami, misinya masih absurd alias tak jelas juntrungannya..yang penting liat eropa!!!..mau kemananya tergantung angin bertiup.

Kami bertiga berangkat ditemani oleh backpack/carrier masing-masing yang volumenya bervariasi. Ada yang backpacknya terlihat kecil tapi muat banyak, ada yang segede bagong tapi muatnya seupil,,(sapa yaa..haha) dan ada yang gedenya setengah mati sampai-sampai dikira sedang menggendong anak..hihi..yaa..maklumlah, kita kan “backpacker amatir” kata deste suatu kali berseloroh.

Dari Utrecht,kami mulai dengan Paris, kota romantis nan indah dimana kami banyak sekali menemukan pasangan berciuman…(mupeng!!!) Atmosfir romantis dan gairah itu langsung kami rasakan begitu kami menginjakkan kaki di Gare du Nord, stasiun KA di sebelah utara Paris.

Agaknya banyak sekali pasangan yang berbulan madu disana..(ya iyalaah….). Kami bertiga sangat bersemangat sekaligus bingung, kok ternyata paris tu ruwet banget ya..”Ini baru di stasiun, apalagi di downtownnya”, ujar kami dalam hati. Beruntung kami dijemput oleh teman saya, Bimo yang sedang menempuh studi musiknya di salah satu konservatorium di Paris.

Bonjour Bimoooooooooooooo!!!!!!…….senang sekali melihatnya dari kejauhan. Sayapun segera berlari menghampirinya. Fiuh..rasanya seperti kedatangan malaikat saja!! Mengingat saya dan Bimo sudah kenal cukup lama (dulu kami sering konser bareng di jakarta..), saya tak segan-segan memeluknya erat2.. Abis,,gimana yaaa..seperti berada di negeri antah berantah dengan bahasa yang benar-benar asing di telinga kami..dan kemudian datang seorang teman yang berkebangsaan sama, berbahasa sama, dan mungkin juga bernasib sama..hehe..

Tak berapa lama, bimo langsung bisa “mingle” dengan dede dan manda (I’ve told u guys, he’ll absolutely suitable with you both..sama-sama gokil soalnya..;p) Dengan gaya nyentrik, lucu, dan judesnya, Bimo pun menjelaskan tentang sistem per-metro-an, per-RER-an, dan per-Tram-an Paris yang ribetnya setengah mati. Bayangkan saja, paris mempunyai 14 line metro, 5 line RER (Réseau Express Régional), dan 4 line Tram yang membuat kami harus benar-benar stick to the transportation map. Dan parahnya lagi, kami harus benar-benar cermat melihat tujuan akhir metro, RER, atau tram yang akan dinaiki, karena yang tertulis destination board bukanlah nama stop yang kami tuju, namun nama dari tujuan akhir jalur tersebut. Kami sampai-sampai diberi tugas tertulis oleh bimo, bagaimana caranya untuk sampai ke Gare du Lyon (stasiun keberangkatan kami selanjutnya) dari halte tram di depan penginapan kami. Udah kayak ujian ajaaaa…haaa.. Tapi sebenarnya, keruwetan jalur-jalur transportasi ini malah membuat otak kami terlatih dan secara tidak langsung membuat orang-orang disana menjadi pintar dan juga mahir dalam membuat keputusan. Dengan waktu keberangkatan yang tepat waktu, dan waktu stop yang begitu singkatnya (kira-kira 30detik saja) mau tak mau memaksa supaya cepat bertindak..masuk atau tidak..jurusan yang ini atau jurusan yang itu..dan seterusnya.. Ditambah dengan kejamnya metropolitan yang menghasilkan orang-orang individualis skeptis yang kebanyakan meninggalkan kesan buruk bagi kami, turis-turis amatir ini. Tak heran jika keadaan di eropa sangat jauhhh berbeda dengan Indonesia yang “alon-alon asal kelakon”.

4 hari 3 malam di paris benar-benar meninggalkan kesan mengasyikkan sekaligus menyakitkan bagi kami. Mengapa mengasyikkan??..sebab selain pergi dan berfoto di objek2 unik nan cantik di Paris (Eiffel, Arc d’triomph, Mon Matre, Sacrecour tempat syuting film “Amelie”), passion kami sebagai wanita terpuaskan, yaitu Shopping!!!! Lewat Cinta, teman Bimo yang kuliah fashion design di Paris, kami diberi informasi tentang toko2 baju dan aksesoris vintage yang harganya miriiiiiiingggg banget, berkisar antar 5-20 euro. Uhuiiii…..Saya mendapat 1 gaun summer bermotif floral dengan harga 10 euro, baju bohemian 5 euro, dan masih banyak barang-barang lucu lainnnya. Kamipun sempat kalap!!

Namun berlawanan dengan euforia shopping, dengan sangat menyesalnya kami melewatkan museum Louvre sebagai salah satu museum yang termashyur di dunia. Museum yang terletak di antara sungai Seine dan Rue deRivoli hanya dapat kami pandang dari luar, sebab sore hari waktu kami datang, museum sudah tutup, dan besoknya adalah hari libur khusus tiap museum di perancis. Huhu..Goodbye Da Vinci’s Monalisa, La Pyramide Inversée, dan axe historique lainnya!!!!! Satu pikiran yang mengusik saya hari itu, “mungkin kami kebanyakan berfoto (dan belanja juga…haha)!” Akhirnya dari pengalaman menyakitkan tersebut, kami belajar bahwa, “Jangan seperti turis Jepang yang terkenal dengan hobi berfotonya saja tanpa tahu apa objek yang ada di fotonya”. “Jangan hanya memperlihatkan kulit luarnya saja (dalam hal ini foto) tapi juga harus tahu bagian dalamnya benar-benar”. Akhirnya dalam perjalanan selanjutnya kami berhasil memperbaiki kesalahan dan juga mengisi ketidaktahuan kami dengan masuk ke beberapa museum..(yippie!!!!!)

Paris….Je t’aime!!!…Kami jatuh cinta luar biasa dengan paris (despite of some unfriendly faces of french “paris” people). Trims berat, Bimo! Dari pengalaman ini, kami sudah merasakan kesetiakawanan orang Indonesia di negeri orang….benar-benar teruji kebenarannya!!! walaupun belum puas mengeksplorasi kota paris, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Lyon, kota pilihan dadakan yang diakibatkan oleh kecerobohan 3 gadis yang bangun kesiangan sehingga tak sempat mengejar kereta!!…hahaaaaaa…

to be continued…….

16
Aug
08

OPERA “ATTIMA”, SEBUAH TRAGEDI CINTA JAWA

TIDAK banyak yang tahu kalau kolonialisasi Belanda ternyata juga membawa keuntungan bagi introduksi musik Indonesia ke dunia musik klasik, khususnya opera. Bahkan menjadi opera brilian yang penuh dengan akulturasi antara budaya timur dan barat. Itulah opera ATTIMA, een Javaanse Liefdestragedie ( Sebuah tragedi cinta Jawa) yang musik dan libretto/syairnya dibuat oleh Constant van der Wall, seorang komposer Belanda yang musiknya banyak terinspirasi oleh bunyi gamelan dan harmonisasi pentatonis khas Indonesia.

Opera yang dinyanyikan dalam bahasa Belanda ini berkisar tentang Attima, seorang penari Jawa yang jatuh cinta dengan Armand, seorang pemuda Belanda yang juga tergila-gila dengan gadis Jawa tersebut. Sedangkan Kartono, salah satu penari dalam Grup “Gamelan” yang sama dengan Attima, sangat menaruh hati pada gadis itu

. Dia dengan segala cara berusaha mengambil hati Attima. Tapi si penari cantik itu terlanjur jatuh cinta pada Meneer Londo Armand dan memutuskan untuk meninggalkan grup tarinya itu demi sang pujaan hati. Lalu hati hancur Kartono pun berubah menjadi dendam kesumat. Dengan bujukan dari Aissa, salah satu penari yang menaruh hati pada Kartono, ia akhirnya berhasil membunuh Armand dengan keris pemberian Aissa. Tak disangka-sangka, Attima yang putus asa tiba-tiba menghunjamkan keris yang sedang digenggam Kartono ke dadanya. Opera ini pun berakhir dengan kematian dua kekasih yang tragis.

Constant van der Wall (1871-1945), menghabiskan masa mudanya di Surabaya dan Semarang, tetapi kemudian menjadi worldcitizen, dimana ia bersama istrinya, Maria van Noppen yang juga adalah seorang penyanyi, berkelana dari Asia sampai Eropa, seperti Surabaya, Den Haag, Monte Carlo, Batavia, dan Nice. Pria Belanda ini mengenyam studi musiknya di Den Haag, yang kemudian dilanjutkan di Konservatorium Musik, Berlin. Pada tahun 1906, dia disebut-sebut sebagai salah satu komposer Belanda yang paling menjanjikan pada masa itu.

Salah satu surat kabar juga menghujani pujian dengan menyebutkan bahwa musiknya sangatlah orisinil, penuh dengan kekuatan universal, dan juga sisi estetika yang berhasil dicerminkan dalam karya-karya briliannya. Van der Wall banyak menulis karya-karya berbau Indonesia dan Melayu (atau yang disebut Indië pada saat itu) seperti Herinneringen uit Java, Javaanse Rhapsodie, Een Wajang-Legende (Ardjoena Huweelijkfeest), Tropennacht, Mohammedaans Gebed, dan juga sebuah opera dengan setting kultur Jawa, ATTIMA. Ia juga mendedikasikan salah satu karya Melayunya, Maleische Liederen untuk salah satu penyanyi klasik legendaris Belanda, Tilly Koenen. Karena kecintaannya pada budaya timur, maka Constant van de Wall dijuluki sebagai “Componist tussen oost en west”, Komponis antara timur dan barat.

Melihat dari sejarah hidupnya, dia punya hubungan yang sangat erat dengan budaya Indonesia. Kontak dengan dunia timur ini membuat dia terinspirasi untuk membuat opera berlatar belakang budaya Jawa. ATTIMA (kependekan dari “hati” dan “emas”), dipentaskan pertama kali pada tanggal 8 Januari 1917 di Koninklijke Schouwburg van Den Haag. Opera ini juga pernah dipentaskan di Theatre de l’Opera Royal Francais de La Haye, Perancis beberapa tahun setelahnya. Karya besar yang syairnya dibuat dalam bahasa perancis dan belanda ini ternyata juga pernah dipentaskan di Batavia pada tahun 1922. Di gedung apa, tak pernah disebutkan. Tahun ini, Attima kembali dipentaskan di Koninklijk Schouwburg van Den Haag tanggal 23,24,25,27,28 Mei yang lalu, dalam rangka perayaan festival tahunan di Den Haag, Pasar Malam Besar yang ke 50. Pasar Malam Besar Den Haag diadakan sejak tahun 1958 dimana orang-orang di Belanda dapat menikmati beraneka macam atraksi budaya Indonesia seperti tarian tradisional dan pertunjukan gamelan, serta makanan khas Indonesia.

***

PEMENTASAN ATTIMA bulan Mei lalu itu terbilang cukup sukses mengangkat kembali opera yang “terlupakan” tersebut. Opera bernafaskan Indonesiani ini didukung oleh para solois profesional yang bisa dibilang sangat berkualitas, baik dalam teknik bernyanyi maupun akting. Karakter utama dalam opera ini, Attima, diperankan oleh Annemarie Kremer yang berhasil membawakan karakter Attima dengan sangat baik, subtil dan terlihat sangat kejawen. Ia juga dapat melaraskan line coloratura pentatonis dengan cukup sempurna dan fasih, walaupun terkadang suara soprano liriknya terdengar terlalu direct dan kurang manis di telinga.

Kartono diperankan oleh Quirijn De Lang yang mempunyai darah Indonesia. Dengan suara baritonnya, ia dapat menciptakan atmosfir yang misterius dan miris. Yang lebih mengejutkan lagi, mereka harus menarikan tari Jawa tradisional dalam banyak adegan di dalam opera, sebab disitu diceritakan bahwa mereka tergabung dalam grup tari “Gamelan” yang sering mengamen di tengah kota dan menarik perhatian para turis yang lewat.

Sang komposer dengan bijaknya menyisipkan siklus tari Jawa tradisional, seperti cuplikan tarian Dewi Sri yang dengan apiknya dipadankan dengan musik barat yang mengangkat tema melodi tradisional Jawa yang berhasil diwujudkan oleh sang koreografer, Arnaud Kokosky Deforchaux dengan sangat baik. Van de Wall mempersingkat tarian yang cukup panjang itu dengan menggambarkan badai yang tiba-tiba datang di sela-sela pementasan, yang mau tak mau harus dipersingkat oleh para penari tersebut. Ia juga memasukkan metafora yang cukup tajam.

Seperti opera Pagliacci, dimana ada cerita di dalam cerita opera itu sendiri, begitu juga dengan Attima. Di dalam runtutan tarian Jawa tersebut, Ia memasukkan tarian yang kurang lebih sama dengan cerita opera Attima itu sendiri, yaitu berceritakan tentang seorang putri yang diganggu oleh setan jahat, yang kemudian ditolong oleh seorang pangeran bersama teman akrabnya. Tetapi kemudian sang putri memilih pangeran Arab itu menjadi pendampingnya, yang lalu ditelantarkan dan pindah ke hati seorang tentara Belanda. Sayangnya tarian itu harus bubar karena datangnya badai yang menghancurkan adegan pernikahan sang putri dengan si tentara Belanda.

Musiknya sendiri pun sedikit mengarah ke gaya Puccini, yaitu Late Romantic Opera yang kental dengan melodi romantik yang sangat liris. Opera Attima ini terkadang mengingatkan kita pada opera Madama Butterfly yang selesai ditulis oleh Puccini pada tahun 1904 dengan nada-nada pentatoniknya dan atmosfir timur asia yang menghiasi karya tersebut.

***

SECARAkeseluruhan, semua penyanyi dan penari pada malam itu tampil sangat prima, tetapi sangat disayangkan orkestra yang main pada malam itu tak bisa melembutkan suara instrumen mereka pada saat para solois melantunkan aria-aria indah dari Constant van de Wall itu, sehingga banyak line yang tak begitu terdengar oleh penonton. Mungkin juga ini disebabkan oleh akustik Koninklijk Schouwburg yang sangat kering, sebab gedung tua ini sebenarnya untuk pementasan teater. Tetapi tanpa alasan ini pun harusnya orkestra mampu menyesuaikan volume suara instrumennya dengan para penyanyi. Begitu juga dengan koor semi amatir yang tak begitu bisa menyampaikan musik yang ditulis secara sophisticated oleh van de Wall tersebut. Walaupun begitu, akting mereka terbilang cukup bagus dan menarik, sehingga bisa menutup kekurangan musikal yang ada.

David Prins, sutradara opera Jawa ini patut diacungi jempol karena ide-ide kreatifnya dalam mengemas opera ini dengan sedemikian rupa, sehingga tetap terlihat sangat orisinil dengan gaya Jawanya. Dalam beberapa adegan kelahi, ia tetap memasukkan tarian Jawa wayang orang di dalamnya, sehingga tampak sangat indah dan asli. Didukung dengan dekor yang sangat pas, opera ini tampak lebih manis. Ditangan ahli dekor dan cahaya, Reier Pos, opera ini menjadi sangat berwarna juga sekaligus misterius. Di babak pertama, Prins mengetengahkan tema pasar tradisional Jawa, dengan tempelan spanduk-spanduk iklan berbahasa Indonesia yang masih ditulis dengan ejaan lama, seperti “Cap Tjaplang” dan “Jamoe Nyonya Meneer”. Sedangkan pada babak kedua, Pos hanya menggantung kain-kain hitam di panggung, dengan cahaya redup yang membuatnya tampak misterius dan menyeramkan.

Kostuumontwerpster opera ATTIMA, Joke Zweedijk sepertinya sangat memahami tekstur-tekstur Jawani yang berhasil ia refleksikan dalam kostum-kostum apik yang dibuatnya. Untuk pemeran-pemeran utama, ia banyak memadukan baju tradisional jawa model “dodot” atau kemben dengan sedikit gaya Bali yang ditampilkan lewat hiasan kepala, namun dengan motif yang tak biasa digunakan dalam budaya tekstil tradisional Indonesia. Warna-warna yang digunakan juga cukup mencolok, seperti merah jingga dan kuning keemasan. Sementara itu untuk kostum choir, ia lebih memilih warna-warna kalem seperti warna khaki dengan motif lurik dan warna-warna pastel. Untuk peran Meneer Belanda, Zweedijk mengetengahkan tema army dengan seragam tugas officer jaman dulu yang didominasi dengan warna putih.

Agaknya opera ini tak akan menjadi kenyataan tanpa bantuan Henk Mak van Dijk, antropolog sekaligus pianis yang menjadi dramaturgi dalam opera ini. Dialah yang mencetuskan ide pementasan opera ini, serta mengangkat kembali karya-karya Indische Componisten, seperti Constant van der Wall, Paul Seelig, Linda Bandara, dan Bernard van den Sigtenhorst Meyer dalam bukunya yang baru saja diterbitkan beberapa waktu lalu, “De Oostenwind waait naar het Westen: Indische componisten, Indische composities 1898-1945” ( Angin timur bertiup ke Barat: Komponis Indische, Komposisi Indische 1898-1945). Dia menulis sejarah para komponis Belanda yang terinspirasi oleh kultur Indonesia yang kemudian berpengaruh besar pada karya-karya musik mereka.

Opera Attima bukanlah opera biasa. Dengan kombinasi antara unsur-unsur timur dan barat yang unik, opera ini berhasil mendapat sebutan, “Satu-satunya opera Indische yang ditulis sebelum tahun 1945”. Dengan banyaknya direktur perusahaan opera yang hadir pada malam itu, saya hanya dapat berharap agar ATTIMA bisa mendapat kesempatan untuk dipentaskan kembali di panggung pertunjukan yang lebih besar, sehingga popularitasnya bisa disejajarkan dengan opera romantik Verdi atau Puccini suatu saat nanti. Sungguh suatu kebanggaan apabila bisa melihat budaya kita dipentaskan di depan khalayak internasional. Tetapi tentunya, kita tidak bisa hanya menggantungkan nasib promosi budaya Indonesia pada tangan orang lain. Kita sebagai anak bangsa juga harus berusaha untuk menggunakan talenta kita untuk berkarya bagi bangsa sendiri dan membawa nama Indonesia ke dunia internasional.***

(Bernadeta Astari, mahasiswi musik di Konservatorium Utrecht)

26
Jul
08

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!